Kilas Sejarah Maritim di Indonesia

Kilas Sejarah Maritim di Indonesia

Sejarah Maritim di Indonesia

Perkembangan mutakhir Historiografi Indonesia memperlihatkan perhatian terhadap kajian Sejarah Maritim di Indonesia, atau ada yang menyebutnya sebagai Sejarah Bahari. Timbulnya perhatian ini tidaklah terlampau mengherankan karena sepertiga wilayah Indonesia terdiri dari bentangan perairan, mulai dari laut hingga danau dan sungai. Secara khusus laut memiliki peranan penting dalam dinamika politik dan masyarakat Indonesia. Dari sudut pandang masa kini, laut tidak lagi dipandang sebagai pemisah daratan atau pulau-pulau tetapi lebih sebagai pemersatu. Selain itu, laut merupakan urat nadi penting dalam komunikasi antar tempat di nusantara.

Dewasa ini di tengah-tengah persaingan ekonomi bangsa-bangsa yang semakin menajam, konsep Indonesia sebagai negara kepulauan (archipelagic state) perlu dimantapkan untuk disebarluaskan dan diperjuangkan di tingkat internasional. Sudah tahun 1957, ketika Deklarasi Juanda dicanangkan, gagasan itu muncul. Deklarasi ini menyatakan bahwa batas territorial atau kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah garis terluar dari batas pantai yang saling berhubungan dan tidak ada celahnya. Gagasan ini merupakan jawaban terhadap pandangan Laut Bebas yang menimbulkan anggapan perairan di seluruh dunia sebagai common property.

Pada tahun 1980-an muncul gagasan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), yang memberikan kedaulatan kepada Negara kepulauan untuk menggarap sumber daya maritimnya. Belitung termasuk dalam jajaran pulau-pulau terdepan (Zuhdi 2006: 8). Kemudian, perhatian terhadap Sejarah Maritim membawa perubahan besar dalam metodologi Historiografi Indonesia. Sudut pandang Sejarah Indonesia bertambah dengan “sudut pandang dari laut.” Maksudnya, dinamika kelautan menjadi bagian perubahan di Indonesia terutama yang “berlangsung di daratan.” Dengan begitu, penulisan sejarah Indonesia menjadi lengkap dan komprehensif. Dalam pemikiran Susanto Zuhdi (2006), seorang Guru Besar Sejarah Indonesia di Universitas Indonesia, perspektif Tanah Air perlu memperoleh pertimbangan dalam Historiografi Indonesia. Penulisan Sejarah Maritim berawal dari karya A.B. Lapian (1987) yang mengetengahkan trikotomi tipologi dalam konstelasi dan dinamika di laut, sebagai Raja Laut, Bajak Laut dan Orang Laut.

Kunjungi juga: Sejarah Maritim Indonesia: Kajian Singkat

Pengembangan setelah itu memperluas salah satu tipologi itu. Misalnya, konsep Raja Laut, atau penguasa laut, dikembangkan dalam penelitian tentang kerajaan maritim dan perebutan hegemoni. Di balik perkembangan ini, fenomena Bajak Laut muncul. Sementara deskripsi tentang Orang Laut lebih banyak digarap dalam kajian Antropologi. Walau agak berbeda, dalam konteks ini masyarakat pantai, seperti nelayan, menjadi pokok bahasan. Aspek selanjutnya dalam Sejarah Maritim adalah pelayaran dan perdagangan. Keperkasaan pelaut nusantara telah terbukti hingga ke mancanegara. Pelayaran mereka mencapai Madagasar dan Australia (Marege).

Dalam jaringan pelayaran interregional, letak strategis kepulauan Indonesia menjadi perlintasan yang penting dalam pelayaran internasional. Terkait dengan jaringan pelayaran, kepentingan ekonomi memainkan peranan yang tidak kecil. Perdagangan internasional menjadi makin marak menyusul kemajuan dalam bidang teknologi pelayaran dan perkapalan. Pembuatan kapal lintas samudra, penemuan alat navigasi dan pengetahuan perbintangan merupakan faktor penting dalam kemajuan itu. Melalui pelayaran dan perdagangan, berbagai tempat saling bersentuhan dan pengaruh mempengaruhi satu dengan lainnya. Apalagi kepulauan Indonesia terletak di antara silang pelayaran dan perdagangan antar wilayah yang berpusat di Kanton, Cina.

Sejak awal Masehi, kepulauan Indonesia telah terlibat di dalam dinamika itu. Secara geografis, pelayaran itu melintasi beberapa jalur di kepulauan Indonesia dalam upaya mencapai Kanton. Dari arah barat ada tiga gerbang masuk pelayaran melintasi kepulauan Indonesia, yaitu Selat Malaka, Laut Selatan dan Selat Sunda (Anyer). Perkembangan jalur-jalur ini terkiat erat dengan musim dan arah tiupan angin. Di lokasi tertentu muncul angin berputar (roaring forties atau westerlies). Untuk kapal layar yang masih berteknologi sederhana, pelayaran pesisir pantai merupakan jalur pelayaran yang lebih aman.

Kunjungi juga: Sejarah Maritim Dunia

Dari Selat Malaka, jalur selanjutnya memasuki Laut Cina Selatan. Sementara, penyusuran Laut Selatan akan tiba di selat Lombok atau Laut Arafura untuk selanjutnya memasuki Laut Banda hingga Laut Sulawesi. Lalu, setelah mencapai Selat Sunda, jalur pelayaran menjadi bercabang empat, yaitu melalui Laut Jawa hingga ke Selat Sulawesi, melalui Selat Bangka, Gaspar dan Karimata. Dua selat yang disebutkan terakhir merupakan bagian dari pulau Belitung (Billiton).

Menyentuh ke persoalan Pulau Belitung, yang termasuk pulau terdepan, secercah keprihatinan muncul yang berkenan dengan perhatian terhadap penulisan sejarahnya. Pulau ini, dalam kaitan sumber daya tambang berupa timah, kerap dikaitkan dengan pulau tetangganya, Bangka. Keduanya dahulu merupakan bagian administratif dari Palembang. Oleh karena itu, gambaran tentang masa lalu pulau itu tidak lebih daripada bagian perkembangan Palembang. Sehubungan itu, inisiatif dan upaya menyibak masa lampau pulau dan masyarakat Belitung perlu disambut baik dan diberi dukungan penuh demi penulisan Sejarah Indonesia yang utuh dan terintegrasi.

Demikian penjelasan singkat tentang Sejarah Maritim di Indonesia.

Search :

  • Tentang Sejarah Maritim di Indonesia
  • Sejarah Maritim di Indonesia
  • Info Sejarah Maritim di Indonesia
  • Kilas Sejarah Maritim di Indonesia
  • Penjelasan Sejarah Kajian Maritim di Indonesia
  • Sejarah Maritim di Indonesia
  • Sejarah Maritim Indonesia
  • Kajian Sejarah Maritim di Indonesia
  • Maritim Indonesia
Share this article
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *