Sejarah Maritim Dunia

Sejarah Maritim Dunia

Sejarah Maritim Dunia

Ruang lingkup Sejarah Maritim Dunia sejauh ini masih merujuk pada sejumlah studi yang telah dilakukan oleh para sarjana, yang berkaitan dengan dunia kelautan, meliputi aspek perdagangan, pelayaran, perkapalan, pelabuhan, dan perompakan. J. C. van Leur (1934) menfokuskan kajiannya pada perdagangan awal di Asia Tenggara sampai datangnya VOC. Menurutnya, pedagangan masa itu lebih bersifat perdagangan barang-barang lux (mewah dan mahal). Volumennya kecil, tetapi bernilai tinggi.

Kapal-kapal yang digunakan berukuran kecil, karena memang tidak memerlukan tempat yang luas dan besar dalam pengangkutannya. Sarjana lain, Meilink-Roelofs (1962), mengatakan bahwa perdagangan masa itu bersifat besar-besaran, ditandai pedagangan lada yang memerlukan kapal besar.

Pengaruh perdagangan bagi perkembangan masyarakat pesisir di Nusantara meupakan fokus kajian O.W. Wolters. Menurutnya, munculnya kerajaan-kerajaan awal di Asia Tenggara merupakan akibat dari reaksi penduduk setempat yang diberikan kesempatan oleh pedagang asing ketika menjalin perdagangan maritim.

Sementara itu, Kenneth R. Hall (1985) mengaitkan kemunculan negara-negara awal di Asia Tenggara dengan perkembangan perdagangan. Menurut Anthony Reid (1999), kedudukan pelabuhan sangat penting dalam perdagangan maritim Asia Tenggara, terutama pada pola pelayaran tradisonal yang memanfaatkan angin muson yang bertiup teratur sepanjang tahun. Dari bulan April sampai Agustus, angin bertiup ke utara menuju daratan Asia.

Sebaliknya, dari bulan Desember sampai Maret angin bertiup ke arah selatan, yakni dari daratan Asia ke Samudera Hindia dan Laut Cina Selatan. Pergantian muson ini secara langsung mempengaruhi route pelayaran, juga perkembangan pelabuhan-pelabuhan di Asia Tenggara. Berkaitan dengan kegiatan pelayaran dan perdagangan, fenomena yang tidak kalah pentingnya dalam kajian sejarah maritim adalah masalah perompakan. Aktivitas ini, menurut Fernand Braudel (1976) dan Lapian (2009), terkait erat dengan keadaan kemakmuran di suatu perairan. Korelasi antara kegiatan bajak laut dengan perdagangan merupakan bentuk awal dari perdagangan maritim. Dalam hal itu, kebutuhan akan perdagangan yang semula berupa tukar- menukar barang timbul karena kekurangan suatu barang tertentu di suatu tempat, sedangkan tempat lain mempunyai surplus.

Pelayaran dan Perdagangan

Maritim Dunia dan Indonesia

Pelayaran dan perdagangan maritim dalam pemikiran ekonom Smith dan Mill dapat mendatangkan dua keuntungan dinamis (Dick 1988; Curtin 1984) bagi para pelakunya. Pertama, vent for surplus (peluang untuk surplus). Proses ini membuka kemungkinan sumber-sumber yang selama ini tidak produktif menjadi produktif, sehingga mempengaruhi pertumbuhan ekspor. Rempah-rempah misalnya, yang menjadi komoditi niaga andalan di masa kurun niaga, awalnya tidak bernilai ekonomis dan dibiarkan (tumbuh liar dan tidak mendapat perhatian) oleh penduduk Maluku. Tetapi, setelah hasil bumi itu diperkenalkan dalam perdagangan maritim oleh pedagang-pedagang China kepada pedagang Eropa, rempah-rempah kemudian menjadi komoditi yang banyak dicari dan diperebutkan oleh para pedagang pribumi dan asing. Bahkan, upaya perolehannya juga mempengaruhi jalannya sejarah Indonesia, mengawali jalan integrasi ekonomi global serta praktek kolonialisme dan imperialisme.

Selain rempah-rempah, komoditi lainnya adalah Teripang. Semula komoditi ini sangat menjijikan bagi penduduk pribumi karena lendirnya. Tetapi, setelah diperkenalkan dalam pedagangan maritim, komoditi itu merangsang gairah masyarakat Sulawesi Selatan untuk mencarinya ke kawasan perairan Indonesia bagian timur sampai pantai utara Australia. Komoditi terakhir membuka jaringan niaga maritim Makassar dengan China serta kemudian negara-negara Eropa. Kedua, highway of learning, yakni efek penyingkapan yang mendidik dalam proses pengalihan pengetahuan teknologi dan budaya (cross culture).

Perdagangan maritim menjadi jalur utama penyebaran agama Hindu, Budha, Islam, dan Kristen di Nusantara. Agama tersebut dibawa oleh para saudagar ketika pusat-pusat pengembangannya terhubung dengan kawasan lain dalam jaringan maritim. Demikian juga perubahan mendasar dalam sistem navigasi, semula mengandalkan kekuatan angin, pada abad ke-19 telah diperkenalkan dan digunakan oleh bangsa Eropa dalam pelayaran samudera, sehingga (1) mendekatkan jarak dan mempersingkat masa pelayaran, (2) mempengaruhi perkembangan teknologi perahu dan perkapalan, dan (3) sistem navigasi pelayaran modern.

Baca juga: Sejarah Maritim Indonesia: Kajian Singkat

Perdagangan Laut Awal

Sejarah Maritim Dunia dan Maritim Indonesia

Sejak tahun 500 SM, jaringan perdagangan antara Asia dengan Laut Tengah dilakukan melalui darat. Routenya mulai dari Tiongkok, melalui Asia Tengah dan Turkestan, sampai ke Laut Tengah. Jalur ini juga digunakan oleh para kafilah dari India. Jalur darat yang paling tua ini sering juga disebut “Jalur Sutra” (Burger 1962).

Seiring perkembangan sistem navigasi laut, jalur dagang tersebut beralih melalui laut. Bermula dari Tiongkok dan Nusantara melalui Selat Malaka ke India, seterusnya ke Laut Tengah melalui dua jalur. Pertama, Teluk Persia melalui Suriah ke Laut Tengah. Kedua, Laut Merah, melalui Mesir hingga tiba di Laut Tengah. Jalur ini mulai digunakan pada abad ke-1 M. Barang-barang yang diperdagangkan di Laut Tengah terdiri dari makanan dan minuman, kain dan pakaian, barang-barang rumah tangga, peralatan, bahan-bahan mentah, barang-barang mahal, rempah-rempah dan pewangi, obat-obatan dan pewarna, budak, dan barang- barang mewah (Dick-Read 2005:43).

Perubahan jalur dagang tersebut, selain menciptakan peluang baru bagi aktivitas maritim dan menghindari ancaman perampok di gurun-gurun sepanjang jalur darat, menurut Burger (1962:14-15) disebabkan oleh empat faktor:

Pertama, permintaan barang-barang mewah dari Timur sangat besar oleh orang-orang kaya di Eropa, khususnya Romawi. Perdagangan antara India dengan Romawi mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Augustus (27 SM-14 M). Kekaisaran Romawi mengeluarkan uang dalam jumlah sangat banyak hanya untuk memperoleh barang-barang mewah, untuk perempuan-perempuan mereka. Pola hidup ini, terutama pemakaian sutera di kalangan perempuan istana Romawi, membuat Kaisar Augustus mengeluarkan peraturan pelarangan penggunaan sutera India transparan dengan dalih moral. Meskipun demikian, jalinan niaga maritim antara Romawi dengan dunia Timur terus berlangsung, terutama impor rempah-rempah dan lada (Dick-Read 2005:43-45).

Kedua, permintaan emas oleh India berpindah ke daerah timur. Siberia yang awalnya merupakan sumber emas tidak lagi mengirimkan emas kepada India, karena jalan-jalan kafilah di sana rusak akibat gelombang migrasi bangsa-bangsa secara besar-besaran. Hal ini erat kaitannya dengan keamanan di sepanjang jalur ini.

Ketiga, pelayaran India dan Tiongkok telah berkembang baik, setelah dioperasikannya angkutan laut berukuran besar bernama Jung. Armada ini mampu mengangkut penumpang antara 600-700 orang. Pengetahuan yang baik mengenai ruang samudera dan angin musim yang bertiup teratur sepanjang tahun (muson) merupakan pendukung utama pengoperasian jung dalam pelayaran. Dengan pengetahuan navigasi itu mereka dapat mengatur masa dan daerah tujuan pelayaran dan perdagangan. Perubahan mendasar ini dipandang sebagai revolusi sistem navigasi maritim Asia pada masa pramodern (Burger 1962).

Perkembangan perdagangan laut tak terpisahkan dari kondisi keamanan yang sudah tidak mendukung kelangsungan perdagangan darat. Dalam abad ke-2, jalur perdagangan darat sering terganggu oleh serangan dari orang-orang Stepa yang nomaden. Juga perpindahan besar-besaran orang China kaya dan terhormat dari utara ke selatan sungai Yangtse. Sementara itu, permintaan barang-barang terus meningkat dari Barat dan Nusantara. Kemudian, pada abad ke-3, jalur melalui Turkestan tertutup. Hal itu membuka kesempatan bagi para pedagang untuk menggunakan jalur laut.

Keempat, penyebaran agama Budha menghilangkan sistem kasta serta prasangka- prasangka yang selama ini menghalangi perniagaan dengan bangsa asing. Rekan dagang dan peserta dagang tidak lagi dibatasi oleh status sosial (kasta), melainkan peluang surplus dari perdagangan. Dari sudut kebudayaan, perdagangan menjadi saluran perkembangan agama Budha, serta Islam kemudian.

Zona Maritim Asia

Sejarah Maritim Dunia dan Indonesia

Menurut Kenneth R Hall (1985), sejak akhir abad ke-13 atau awal abad ke-14, di Asia telah terbentuk lima zona perdagangan maritim yang mempengaruhi dinamika pelayaran dan perkembangan negara-negara di kawasan ini. Lima zona tersebut yaitu Teluk Bengal, Selat Malaka, Laut Cina Selatan, Laut Sulu, Laut Jawa.

Zona perdagangan maritim Teluk Bengal

meliputi pesisir Koromandel, India bagian selatan, Sri Lanka, Burma (sekarang Miyanmar), bagian utara Semenanjung Malaka serta pantai utara dan barat Sumatra. Pada abad ke-14, pantai utara dan barat Sumatra sangat penting seiring tingginya permintaan pasar dunia terhadap lada hitam. Dalam konteks ini, pelabuhan perantara (enterport) Samudera Pasai di pantai timur laut bertindak sebagai penyuplai utama lada hitam bagi pedagang dari Timur dan Barat (Hall 1985:225).

Zona perdagangan maritim Selat Malaka

merupakan kawasan perdagangan penting bagi dunia Melayu pada abad ke-15 dibawah pengaruh Malaka. Tampilnya Malaka sebagai pusat perdagangan terkait erat dengan perlindungan politik China, karena kawasan ini menjadi jalur pelayaran dan perdagangan laut China. Tetapi, meskipun demikian, setelah tahun 1430-an Malaka tidak lagi bergantung pada China. Bandar perdagangan internasional terkemuka di dunia itu lebih banyak berinteraksi dengan pedagang-pedagang Jawa dan Asia Tenggara lainnya (Hall 1985:226).

Zona perdagangan maritim Laut Cina Selatan

meliputi pantai timur laut Semenanjung Malaka, Thailand, dan pesisir pantai Vietnam yang berada dalam perbatasan Teluk Thailand. Ayudhya merupakan kerajaan yang sangat penting dalam zona ini, terbentuk sejak awal abad ke-14. Pada abad ke-15, Ayudha telah mengekspor beras ke Melaka. Juga berperan sebagai pusat niaga maritim dengan Philipina dan China. Sebagian besar perdagangan ini dijalankan oleh orang Melayu dan muslim China yang menetap di pelabuhan Ayudha (Hall 1985:226).

Laut China Selatan ini sering dipandang sebagai “laut tengah” yang dikelilingi oleh negeri-negeri, yang merupakan permulaan lintasan bahari ke Timur Jauh. Semua daerah di Asia Tenggara dihubungkan oleh laut ini. Bagi bangsa China, semua negeri yang terletak di Laut China yang besar itu dikelompokkan dalam satu nama yakni Nanhai atau Lautan Selatan.

Itulah sebabnya dalam peta kawasan ini disebut sebagai Laut China Selatan. Di bagian utara dan barat, bagian benua Asia yang berbatasan dengan laut, berupa dataran-dataran pesisir di China Selatan dan Semenanjung Indochina. Di sebelah timur, selatan, dan barat daya,terbentang bumi kepulauan dengan ribuan jumlah pulaunya yang berderet membentuk lengkungan besar, memanjang mulai dari pantai China dan Taiwan sampai ke Semenanjung Melayu negara tersebut memperoleh manfaat dari hasil peradaban besar yang terbawa dari India dan China, kemudian juga dari Timur Tengah.

Di bagian barat, dari Pulau Jawa sampai ke pesisir China, terdapat sederetan Negara yang maju di bidang ekonomi dan yang mempunyai hubungan langsung dengan lintasan trans Asia. Di bagian timur, terdapat “dunia ketiga” yang menyediakan hasil buminya, berupa rempah-rempah dari Maluku, kayu cendana dari Timor, kapur baris dan bijih dari Kalimantan, dan lain sebagainya. Hasil bumi itu hanya dapat masuk di lalu lintas maritim internasional dengan perantaraan negara-negara di sebelah barat. Di sinilah kapal-kapal dari semua penjuru bertemu. Tidak mengherankan apabila kerajaan-kerajaan besar pertama yang dikenal berpusat di kawasan ini. Posisi geografis ini sangat menguntungkan baginya karena bisa menguasai tempat pertemuan jalan pelayaran dan perdagangan (Lapian 2008: 4). Menurut Wolters (2011: 19), pelayaran dari dan ke barat (baca: Teluk Bengal) itu lebih dulu beberapa abad dari penemuan jalan laut ke negeri China

Zona perdagangan maritim Laut Sulu

meliputi pantai barat Luzon, Mindoro, Cebu, Mindanao, dan pantai utara Kalimantan. Semua kawasan itu berfungsi sebagai penghubung perdagangan antara China dengan kepulauan rempah-rempah di Asia Tenggara. Kepulauan rempah-rempah menghasilkan pala dan bunga pala, cengkih, cendana (sandalwood), dan komoditi mewah (lux) lainnya seperti nuri (parrot) dan burung-burung surga (birds ofparadise) yang diperdagangkan melalui Laut Sulu ke China dan negara Thai di utara, serta Jawa dan Malaka di barat (Hall 1985:226). Keterlibatan pedagang China di Philipina sejak abad ke-11 dan abad ke-12 sangat mempengaruhi kegiatan niaga di zona Laut Sulu. Kemudian, dalam abad ke-14 para pedagang lokal telah melibatkan diri secara intensif dalam perdagangan impor dan pengumpulan hasil- hasil hutan yang diminati oleh pedagang-pedagang China. Dengan demikian, perdagangan di kawasan ini (secara internal dan eksternal) menstimulasi perubahan-perubahan besar bagi pedagang-pedagang China.

Disini bertiup angin musim yang berganti-ganti, menghembus ke arah barat daya. Angin musim panas menghembus dari laut membawa kelembaban dengan arah berlawanan sehingga sampai dataran-dataran pesisir China Selatan ikut merasakan pengaruh iklim yang hampir tropis. Daerah ini paling baik untuk pertanian persawahan, juga menjadi tempat berlangsungnya perpindahan penduduk secara besar-besaran. Penduduknya langsung berhadapan dengan laut yang luas. Di kepulauan, perpindahan melalui darat tidak mungkin karena sifatnya sebagai kepulauan, sementara di daratan juga demikian karena terpecah-pecahnya daerah pemukiman di dataran-dataran alluvial, yang kadang-kadang sangat sempit dan terpisah-pisah satu sama lainnya oleh daerah-daerah pegunungan yang menjorok sampai ke pinggiran laut, atau lebih ke selatan oleh hutan rimba tropis yang lebat. Kondisi tersebut menempatkan Laut China Selatan sebagai media penghubung yang menempa kesatuan daerah-daerah tersebut. Di sekitar laut ini terbentuk kekuatan-kekuatan politik yang membuat Asia Tenggara menjadi dunia yang sangat ramai jaringan perhubungan maritimnya. Laut China Selatan merupakan mata rantai dalam jaringan yang jauh lebih luas, tempat terjadinya pertukaran antara berbagai peradaban, sehingga menghasilkan peradaban yang beraneka ragam bagi Asia Tenggara.Laut China Selatan merupakan jalur lintasan trans Asia, dari pantai China Selatan di timur laut mengarah ke barat daya ke daerah-daerah selat. Kawasan laut ini bukanlah padang yang dapat dilintasi dari satu ujung ke ujung lainnya, melainkan suatu daerah luas yang penuh bahaya, antara lain pulau-pulau karang Paracels dan Spartley. Kapal-kapal berlayar lalu lalang memanfaatkan angin musim yang siluh bergangti berembus tepat dalam poros itu dan oleh arus air deras mengalir bersamaan dengan angin itu. Negeri-negeri pesisir sepanjang jalan maritim yang ramai itu mempunyai kedudukan yang menguntungkan, lewat kegiatan perdagangan maritim ataupun pembajakan. Karena kegiatan ekonomi itulah, maka negara-Malaka, Laut China Selatan, Laut Jawa, dan Laut Sulu.

Masyarakat Philipina. Situasi ini mendukung regulasi formal jaringan perdagangan antara penduduk setempat (indigenous population) dan pedagang luar negeri serta mendorong pembentukan klaster-klaster kampung ( barangay) yang dikontrol dan dilindungi olehpemimpin lokal yang disebut datu Penelitian arkeologi menemukan adanya pemukiman penduduk yang lebih dari lima ratus rumah tangga di Manila pada periode sebelum Spanyol, seperti halnya lokasi pemukiman di Mindoro, Mindanao, dan pantai Cebu. Mereka menjalin hubungan dagang dengan China. Data-data peninggalan yang ditampilkan mirip dengan penanggalan porselin China dari masa Dinasti Sung dan Dinasti Ming (Hall 1985:227).

Zona perdagangan maritim Laut Jawa

Meliputi Nusa Tenggara (Selat Sunda), Maluku, Timor, pantai barat Kalimantan, Jawa, dan bagian selatan Sumatera. Jaringan perdagangan ini dibawah hegemoni Majapahit (Hall 1985:227). Dalam kitab Negarakertagama terdapat sejumlah nama daerah di Nusantara yang pernah mempunyai hubungan dengan Majapahit, dalam konteks hubungan dan jaringan perdagangan maritim abad ke-14 yang menempatkan Majapahit sebagai pemegang hegemoni di Laut Jawa.

Demikian penjelasan tentang sejarah maritim dunia dari kami, semoga ini dapat menambah wawasan para pembaca.

Sumber Artikel

Artikel:

Sejarah Maritim | Sejarah Maritim Dunia | Maritim | Sejarah | Kajian Sejarah Maritim Dunia | Info Sejarah Maritim Dunia | Pengetahuan Sejarah Maritim Dunia | Pengetahuan Dasar Sejarah Maritim Dunia | Penjelasan Sejarah Maritim Dunia | Penjelasan tentang Sejarah Maritim Dunia | Info tentang Sejarah Maritim Dunia | Sejarah Maritim Dunia dan hubungannya dengan Indonesia | Lintas Sejarah Maritim Dunia dan hubungannya dengan Indonesia | Pengetahuan Dasar Sejarah Maritim Dunia | Penjelasan Sejarah Maritim Dunia | Penjelasan tentang Sejarah Maritim Dunia | Info tentang Sejarah Maritim Dunia | Sejarah Maritim Dunia dan hubungannya dengan Indonesia | Lintas Sejarah Maritim Dunia dan hubungannya dengan Indonesia | Kajian Sejarah Maritim Dunia | Info Sejarah Maritim Dunia | Pengetahuan Sejarah Maritim Dunia | Pengetahuan Dasar Sejarah Maritim Dunia

Share this article
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *